Sabtu, 19 Desember 2009

Apakah harus menunggu kaya, Baru berbuat baik ?


Assalamu’alaikum wr.wb

Shahabatku yang baik. Mudah-mudahan setiap hembusan nafas yang kita keluarkan, diiringi dengan kebaikan. Karena apabila kita berfikir tentang hal kebaikan, Berkata tentang Kebaikan, dan Bertindak dalam kebaikan. Tentu keberhasilan berpihak untuk kita.

Berbicara mengenai kekayaan. Khususnya kekayaan harta, sungguh mengiur untuk diikuti. Seminar entrepreneurship. Mengajak untuk menjadi pribadi kaya raya, mati sasuk syurga. Selogan yang sering dilontarkan oleh pembicara dalam seminar menjadi pengusaha. Buku-buku tentang kiat-kiat mencapai Finacial Freedom. Terus muncul pada terbitan terbaru. Tak asing karya Robber T Kyosaki, menjadi santapan bagi mereka yang menginginkan pensiun dini.

Menjadi kaya harta bukanlah kehinaan. Rasulullah dan shahabat telah menunjukkan, bagaimana sewajarnya menjadi manusia paripurna. Namun, bila salah menyikapi. Pintu kemelaratan terbuka sangat lebar, membuat kita jatuh dalam lubang maksiat.

”Kalau kita kaya, maka kita bisa beramal dan melakukan kebaikan. Sedekah, Zakat, memberikan beasiswa bagi anak dhuafa, mendirikan rumah sakit dsb.” Kalimat itu, sering terdengar dalam motivasi berwirausaha. Akan tetapi, setelah dikaji lebih dalam. Kalimat tersebut apabila diulang kembali ditelinga. Didengar dan dirasakan dengan hati. Seperti ada makna (presuposisi) lain disana, yang akhirnya melekat menjadi belief system.

Kalau kita kaya, maka kita bisa beramal dan melakukan kebaikan. Berarti, bila tidak ada uang, maka kita tidak bisa beramal. Apakah demikian ? Ada jawaban dari dalam sini. Bukankah dengan berbagi ilmu, kita bisa juga berbuat kebaikan? Jawaban berupa pertanyaan ini, Tepat diterima.

Akhir-akhir ini, saat melakukan Audit fikiran tahunan. Sepertinya ada yang kurang pas. Selama ini belief system bekerja : ”Kalau sudah berbagi ilmu, itu sudah cukup. Sama juga dengan mengeluarkan harta.” Ternyata belief ini, membuat saya salah kaprah. Padahal, tidak pernah ada ayat atau hadis yang menerangkan. Bahwa orang yang berbuat satu perkara kebaikan, akan membatalkan (memadai) kesempatan berbuat baik yang lain.

Dan jikalau dikaji lebih dalam lagi. Apakah amal ibadah sekarang, telah cukup untuk kembali tempat kekal abadi ? Ya Allah, Maafkanlah atas kekeliruan hamba. Astaqfiruallah...

Bogor 19 Desember 2009. 23.35 Wib.


Label:


Komentar: Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]





<< Beranda

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Berlangganan Postingan [Atom]